CILEGON | rosindonews.com - Pernyataan Humas PT MCCI yang menyebut dampak ledakan hanya “uap air” memicu kemarahan warga terdampak di Kecamatan Grogol, Kota Cilegon. Statement tersebut dinilai lucu, gegabah, tidak manusiawi, dan melecehkan penderitaan masyarakat yang mengalami langsung sesak napas, pusing, mual hingga trauma pasca kejadian pada 25 Mei 2026.(28/5/2026)
“Ini uap air mau buat kopi? Buat teh? Atau buat mandi? Jangan bicara seolah masyarakat ini bodoh dan tidak tahu apa yang sedang mereka hirup,” tegas Bung Ayat, Pembina Yayasan H Suhah Fastabiqul Khairat.
Menurutnya, seorang humas seharusnya menjadi penyejuk dan jembatan komunikasi perusahaan dengan masyarakat, bukan malah mengeluarkan statement yang terkesan menutup-nutupi situasi.
“Kami minta Direktur Utama PT MCCI segera pecat humas yang tidak kompeten dan tidak punya empati terhadap warga terdampak. Cari humas yang mampu berkomunikasi secara humanis, bukan justru memperkeruh keadaan,” ujarnya.
Bung Ayat mengungkapkan bahwa keluarganya menjadi korban dampak udara pasca ledakan. Istri dan adik kandungnya yang sedang hamil mengalami sesak napas, mual, muntah hingga batuk akibat bau menyengat yang diduga berasal dari zat kimia.
“Bau nya amis, anyir, seperti bahan kimia. Istri saya sesak napas dan pusing. Adik saya muntah-muntah dan batuk. Saya sendiri merasakan kepala pusing dan dada sesak saat keluar rumah,” katanya.
Ia menilai langkah mitigasi yang dilakukan sangat lambat dan membahayakan keselamatan warga. Informasi penanganan kesehatan baru beredar beberapa jam setelah kejadian melalui grup RT/RW.
“Kalau ini dianggap hal biasa, berarti nyawa masyarakat memang tidak dianggap penting. Ini bukan sekadar asap lewat. Ini menyangkut keselamatan manusia,” tegasnya.
Pihaknya juga meminta seluruh aktivitas produksi PT MCCI dihentikan sementara sampai proses penyelidikan selesai secara transparan.
“Stop seluruh aktivitas dulu. Jangan ada produksi sebelum penyelidikan tuntas. Jangan main-main, ini menyangkut nyawa,” katanya.
Selain itu, Bung Ayat mendesak Pemerintah Kota Cilegon dan Pemerintah Provinsi Banten melakukan evaluasi total terhadap seluruh industri kimia di Kota Cilegon, termasuk izin operasional, AMDAL, sistem mitigasi hingga standar keselamatan industri.
“Trauma masyarakat belum selesai, kejadian sudah terulang lagi. Tahun 2022 masyarakat dibuat takut, sekarang 2026 kejadian kembali. Mau tunggu korban jatuh dulu baru serius?” ujarnya.
Ia menegaskan masyarakat tidak anti investasi, namun keselamatan warga tidak boleh dikorbankan demi kepentingan industri.
“Kami mendukung investasi masuk ke daerah. Tapi jangan jadikan masyarakat sekitar sebagai korban. Keselamatan dan kesehatan warga harus di atas segalanya,” pungkasnya.(Ros/Red*)

0 Komentar
Silakan tulis komentar dengan sopan dan relevan dengan artikel.