Breaking News

Child Gone dan Cilegon: Ketika Anak-Anak Mulai Hilang dari Kotanya Sendiri


CILEGON | ROSINDONEWS - Istilah "Child Gone" secara harfiah berarti anak yang hilang atau pergi.(17/6/2026) 

Dalam kajian sosial, istilah ini sering dikaitkan dengan anak-anak yang kehilangan ruang tumbuh, perlindungan, perhatian, atau bahkan masa depannya akibat kondisi lingkungan dan sosial yang tidak mendukung. 

Anak yang "hilang" tidak selalu berarti hilang secara fisik, tetapi juga bisa hilang harapan, identitas, dan kesempatan hidup yang layak?. 

Jika ditarik ke konteks Kota Cilegon, fenomena Child Gone dapat dimaknai sebagai sebuah peringatan sosial.

Cilegon dikenal sebagai kota industri terbesar di Banten. Cerobong pabrik berdiri megah, investasi terus masuk, dan angka pertumbuhan ekonomi sering menjadi kebanggaan daerah. Namun di balik gemerlap industri tersebut, muncul pertanyaan mendasar:

Apakah anak-anak Cilegon benar-benar menjadi bagian dari kemajuan itu?

Ketika lapangan kerja industri lebih banyak diisi tenaga kerja dari luar daerah karena tuntutan kompetensi, sementara sebagian anak-anak lokal masih menghadapi persoalan kualitas pendidikan, keterampilan, dan akses kesempatan, maka perlahan lahir generasi yang merasa asing di tanahnya sendiri.

Mereka tidak hilang secara fisik.
Tetapi mereka mulai "hilang" dari peta pembangunan.

Anak-anak yang tumbuh di tengah kawasan industri seharusnya memiliki mimpi menjadi insinyur, manajer, teknolog, atau pengusaha. Namun jika yang mereka lihat hanya tembok-tembok pabrik tanpa akses untuk masuk dan berkembang di dalamnya, maka yang tumbuh adalah rasa keterasingan.

Inilah bentuk modern dari Child Gone.
Bukan anak yang pergi dari kota.
Tetapi kota yang perlahan meninggalkan anak-anaknya.

Lebih mengkhawatirkan lagi ketika ruang publik untuk anak dan remaja semakin terbatas, budaya literasi rendah, angka pengangguran muda masih menjadi tantangan, dan pembangunan lebih sering berbicara tentang investasi daripada pembangunan manusia.

Padahal keberhasilan sebuah kota bukan diukur dari berapa banyak pabrik berdiri, melainkan berapa banyak anak daerah yang mampu menjadi pemimpin di dalamnya.

Cilegon harus mulai mengubah paradigma pembangunan. Industri harus menjadi alat untuk menciptakan generasi unggul, bukan sekadar mesin pertumbuhan ekonomi.

Jika tidak, maka 20 tahun ke depan Cilegon mungkin akan tetap menjadi kota industri yang besar, tetapi kehilangan generasi mudanya sebagai pelaku utama pembangunan.

Dan saat itu terjadi, kita akan menyadari bahwa yang hilang bukan hanya anak-anak, Yang hilang adalah masa depan Cilegon sendiri.(RSDN/RED*) 

0 Komentar

Silakan tulis komentar dengan sopan dan relevan dengan artikel.

© Copyright 2026 - ROSINDONEWS.COM