Breaking News

“Child Gone” di Kota Industri

       Foto IKON Landmark Cilegon/Dok

Cilegon | rosindonews.com - Di tengah megahnya cerobong asap dan deretan pabrik yang berdiri kokoh di Cilegon, muncul satu istilah yang mulai ramai dibicarakan pemuda lokal: “Child Gone.”.(22/6/2026) 

Istilah itu bukan sekadar permainan kata.
Ia menjadi sindiran sosial terhadap kondisi ketika anak-anak muda Cilegon justru harus pergi meninggalkan kotanya demi mencari masa depan di daerah lain.

Cilegon dikenal sebagai kota industri. Ratusan perusahaan berdiri, kawasan industri terus berkembang, dan kebutuhan tenaga kerja disebut sangat besar. Namun di sisi lain, banyak pemuda lokal merasa belum benar-benar menjadi bagian utama dari pertumbuhan tersebut.

Belakangan, perhatian publik tertuju pada program penyaluran tenaga kerja oleh pemerintah daerah yang bekerja sama dengan perusahaan luar daerah, termasuk perekrutan tenaga keamanan untuk ditempatkan di Jakarta. Puluhan hingga ratusan pemuda Cilegon diberangkatkan keluar kota demi mendapatkan pekerjaan.

Bagi sebagian pihak, langkah itu dianggap sebagai bentuk keberhasilan pemerintah dalam menekan angka pengangguran. Namun bagi sebagian masyarakat lainnya, fenomena ini justru memunculkan pertanyaan besar:

“Mengapa kota industri sebesar Cilegon masih membuat anak mudanya pergi mencari hidup di kota lain?”
Istilah “Child Gone” pun lahir sebagai simbol kekecewaan generasi muda lokal.

Sebuah gambaran tentang anak daerah yang tumbuh di tengah kawasan industri, tetapi merasa jauh dari akses utama terhadap peluang yang ada di tanah kelahirannya sendiri.

Masyarakat menilai persoalan ini bukan semata tentang ada atau tidaknya pekerjaan. Yang dipertanyakan adalah sejauh mana pembangunan industri benar-benar memberi dampak langsung bagi warga lokal.

Sebagian pemuda mengaku merasa hanya menjadi penonton di kota sendiri. Mereka menyaksikan investasi besar masuk, aktivitas industri berjalan tanpa henti, namun kesempatan kerja strategis dinilai belum sepenuhnya berpihak kepada masyarakat sekitar.

Pengamat sosial menilai kondisi seperti ini dapat memicu kesenjangan sosial jika tidak ditangani secara serius. Ketika pertumbuhan ekonomi daerah tidak dirasakan secara merata oleh masyarakat lokal, rasa ketidakadilan perlahan tumbuh di tengah generasi muda.

Di sisi lain, pemerintah tetap memiliki tantangan besar untuk menjaga keseimbangan antara penyerapan tenaga kerja cepat dan keberpihakan terhadap putra daerah.

Karena bagi banyak warga, harapan utamanya sederhana: bukan hanya melihat industri berdiri di Cilegon, tetapi juga melihat anak-anak Cilegon mampu tumbuh, bekerja, dan membangun masa depan di kotanya sendiri — bukan menjadi “Child Gone” yang harus pergi demi bertahan hidup.(RED*) 

2 Komentar

Silakan tulis komentar dengan sopan dan relevan dengan artikel.

© Copyright 2026 - ROSINDONEWS.COM