CILEGON | ROSINDONEWS - Kota terus berbicara tentang pembangunan, industri terus bicara investasi, pejabat terus bicara kemajuan. Namun di balik itu semua, ada realita yang perlahan sedang mati: kepedulian terhadap generasi muda.(20/6/2026)
Istilah “Aksara Child Gone” adalah simbol kritik terhadap keadaan hari ini, ketika anak-anak dan generasi muda tumbuh di lingkungan yang penuh pembiaran, ketimpangan, dan kehilangan arah sosial.
Mereka hidup di tengah jalan rusak yang dibiarkan, drainase tersumbat berbulan-bulan, fasilitas publik minim perhatian, penerangan jalan yang buruk, hingga lingkungan yang lebih sibuk memoles pencitraan daripada menyelesaikan persoalan nyata masyarakat.
Ironisnya, semua pihak seolah terbiasa melihat masalah tanpa merasa perlu bergerak cepat menyelesaikannya. Pemerintah sibuk dengan administrasi, perusahaan sibuk dengan keuntungan, sementara masyarakat dipaksa hidup berdampingan dengan risiko setiap hari.
Di depan kawasan industri, jalan tergenang berbulan-bulan dianggap hal biasa.
Mobil-mobil besar tetap keluar masuk tanpa ada kepedulian nyata terhadap kondisi lingkungan sekitar. Ketika keselamatan publik mulai kalah oleh kepentingan ekonomi, di situlah sesungguhnya nurani sosial sedang mengalami krisis.
“Child Gone” bukan sekadar istilah, tetapi gambaran generasi yang perlahan kehilangan kepercayaan terhadap kepedulian sosial dan keadilan.
Anak-anak muda hari ini tumbuh dengan menyaksikan bahwa masalah bisa dibiarkan lama tanpa solusi. Mereka melihat bahwa suara masyarakat sering kali baru didengar ketika sudah viral atau memakan korban.
Ini berbahaya. Karena generasi yang terlalu lama hidup dalam budaya pembiaran akan tumbuh menjadi generasi yang apatis. Mereka tidak lagi percaya pada sistem, tidak percaya pada kepedulian, bahkan tidak percaya bahwa perubahan bisa benar-benar terjadi.
Kritik ini harus diterima sebagai alarm bersama, bukan dianggap serangan. Sebab yang sedang dipertanyakan bukan hanya soal genangan air atau jalan rusak, tetapi soal keberpihakan terhadap keselamatan dan masa depan masyarakat.
Kalau persoalan sederhana seperti drainase, penerangan jalan, dan keselamatan publik saja tidak mampu ditangani cepat, lalu bagaimana bicara tentang kemajuan kota dan kualitas generasi masa depan?
Sudah saatnya pemerintah berhenti lambat merespons keluhan masyarakat.
Sudah saatnya perusahaan tidak hanya hadir sebagai pengguna wilayah industri, tetapi juga memiliki tanggung jawab moral terhadap lingkungan sosial di sekitarnya. Dan sudah saatnya masyarakat berhenti diam terhadap pembiaran yang terus dianggap normal.
Karena kota yang besar bukan hanya tentang tingginya industri dan megahnya bangunan, tetapi tentang seberapa serius ia menjaga keselamatan, harapan, dan masa depan generasinya.(RED*)

0 Komentar
Silakan tulis komentar dengan sopan dan relevan dengan artikel.