CILEGON | rosindonews.com - Kota Cilegon selama ini dikenal sebagai Kota Baja (Steel City) dan salah satu pusat industri petrokimia, baja, energi, serta manufaktur terbesar di Indonesia.(9/7/2026)
Berdirinya perusahaan-perusahaan besar seperti PT Krakatau Steel, PT Chandra Asri Pacific, PT Lotte Chemical Indonesia, PT Krakatau Posco, PT Asahimas Chemical, PT Nippon Shokubai Indonesia, PT Mitsubishi Chemical Indonesia, PT Dover Chemical, PT Wilmar Nabati Indonesia, serta berbagai industri lainnya telah menjadikan Cilegon sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional.
Cilegon has long been recognized as Indonesia's Steel City and one of the nation's largest industrial hubs for steel, petrochemicals, energy, and manufacturing. The presence of major companies such as PT Krakatau Steel, PT Chandra Asri Pacific, PT Lotte Chemical Indonesia, PT Krakatau Posco, PT Asahimas Chemical, PT Nippon Shokubai Indonesia, PT Mitsubishi Chemical Indonesia, PT Dover Chemical, and PT Wilmar Nabati Indonesia has transformed Cilegon into one of Indonesia's key economic engines.
Namun, di balik kemajuan tersebut, muncul sebuah fenomena sosial yang patut menjadi perhatian bersama, yaitu Child Gone. Istilah ini bukan menggambarkan anak-anak yang hilang secara fisik, melainkan hilangnya harapan, kesempatan, dan rasa memiliki generasi muda terhadap masa depan mereka di Kota Cilegon.
Behind this remarkable industrial growth lies an emerging social phenomenon known as Child Gone. It does not describe children disappearing physically, but rather the gradual loss of hope, opportunity, and belonging among local youth regarding their future in Cilegon.
Ironisnya, ribuan putra-putri Cilegon tumbuh di tengah kawasan industri bertaraf internasional. Mereka melihat pabrik-pabrik besar berdiri megah, cerobong asap terus beroperasi, dan investasi terus meningkat. Namun setelah menyelesaikan pendidikan, tidak sedikit dari mereka yang merasa sulit memperoleh kesempatan untuk menjadi bagian dari kemajuan tersebut.
Ironically, thousands of young people grow up surrounded by world-class industries. They witness continuous investment and industrial expansion, yet after completing their education, many struggle to become part of the very development taking place in their own city.
Fenomena Child Gone bukan semata-mata persoalan rekrutmen tenaga kerja. Persoalan ini juga berkaitan erat dengan kualitas pendidikan, pengembangan kompetensi, pelatihan vokasi, penguasaan teknologi, kemampuan berbahasa asing, serta keterhubungan antara dunia pendidikan dengan kebutuhan industri modern.
Child Gone is not merely an employment issue. It is closely linked to the quality of education, vocational training, technological competence, language proficiency, and the alignment between educational institutions and the evolving needs of modern industries.
Sebagai kota industri strategis nasional, Cilegon memiliki potensi besar untuk menjadi contoh pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada investasi, tetapi juga pada pembangunan sumber daya manusia. Industri yang maju seharusnya berjalan beriringan dengan lahirnya generasi lokal yang unggul, kompetitif, dan mampu mengisi berbagai posisi strategis di perusahaan-perusahaan yang berdiri di tanah kelahirannya.
As one of Indonesia's strategic industrial cities, Cilegon has the opportunity to become a model where industrial investment grows alongside human capital development. Industrial progress should be accompanied by the emergence of highly skilled local talent capable of contributing to the companies operating in their own hometown.
Konsep Child Gone mengajak seluruh pemangku kepentingan—pemerintah, dunia pendidikan, dunia usaha, dan sektor industri—untuk membangun kolaborasi yang lebih kuat. Kurikulum harus lebih adaptif terhadap kebutuhan industri, program magang diperluas, pelatihan berbasis kompetensi diperkuat, dan kesempatan bagi putra-putri daerah untuk berkembang harus semakin terbuka.
The Child Gone concept calls upon governments, educational institutions, businesses, and industries to strengthen collaboration. Educational curricula must become more adaptive, vocational programs must be enhanced, internships expanded, and greater opportunities must be created for local youth to grow and compete.
Child Gone bukanlah bentuk menyalahkan dunia industri maupun pemerintah. Child Gone adalah sebuah refleksi bahwa pembangunan akan benar-benar berhasil apabila pertumbuhan ekonomi mampu berjalan seiring dengan tumbuhnya harapan generasi muda.
Child Gone is not about blaming industries or the government. It is a reflection that development can only be considered successful when economic growth advances together with the hopes and aspirations of the younger generation.
"Cilegon tidak boleh hanya dikenal sebagai Kota Industri. Cilegon juga harus dikenal sebagai kota yang mampu melahirkan generasi unggul yang menjadi pelaku utama pembangunan."
"Cilegon should not only be recognized as an industrial city. It must also be known as a city that produces outstanding local generations who become the driving force behind its own development."
(RSDN/Red*)

0 Komentar
Silakan tulis komentar dengan sopan dan relevan dengan artikel.