CILEGON | rosindonews.com - Asap cerobong industri terus mengepul di langit Kota Cilegon. Deretan pabrik baja, petrokimia, hingga proyek strategis nasional berdiri megah dan menghasilkan triliunan rupiah setiap tahun. Kota ini bahkan dikenal sebagai salah satu kota industri terkaya di Indonesia.(5/7/2026)
Namun di balik gemerlap investasi dan besarnya nilai industri, banyak warga lokal justru mengaku masih kesulitan mendapatkan pekerjaan tetap di sektor industri yang tumbuh di daerah mereka sendiri.
“Pabrik banyak, tapi masuknya susah,” ujar salah seorang pemuda asal Kecamatan Grogol yang sudah bertahun-tahun mencoba melamar kerja ke sejumlah perusahaan industri di Cilegon.
Fenomena tersebut kini menjadi keluhan yang terus berulang di tengah masyarakat. Banyak warga mengaku hanya menjadi penonton di tengah derasnya arus industrialisasi Kota Baja.
Data Dinas Tenaga Kerja Kota Cilegon mengakui bahwa serapan tenaga kerja lokal masih belum optimal. Pemerintah daerah bahkan mencatat adanya ketidaksesuaian kompetensi pencari kerja dengan kebutuhan industri yang ada di Kota Cilegon.
Tidak hanya itu, sejumlah pengusaha lokal juga mengeluhkan sulitnya akses terhadap informasi proyek dan pekerjaan dari perusahaan-perusahaan besar di kawasan industri. Mereka menilai informasi tender dan kebutuhan pekerjaan masih tertutup sehingga pelaku usaha lokal sulit bersaing.
Kondisi ini memunculkan kesenjangan sosial di tengah tingginya pertumbuhan industri. Di satu sisi, investasi terus masuk dan kawasan industri terus berkembang.
Namun di sisi lain, angka pengangguran dan keresahan masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah pemerintah daerah.
Sorotan juga muncul terhadap minimnya keterlibatan warga sekitar dalam proyek-proyek industri besar.
Dalam salah satu proyek industri besar di Cilegon, jumlah tenaga kerja warga sekitar disebut hanya berada di kisaran kecil dibanding total pekerja yang terserap.
Pemerintah Kota Cilegon sendiri mengakui persoalan tersebut. Wali Kota Cilegon telah beberapa kali mengumpulkan pihak HRD perusahaan industri untuk membahas kualitas tenaga kerja lokal dan memperkuat kolaborasi antara pemerintah dengan dunia industri.
Selain itu, Dinas Tenaga Kerja Kota Cilegon mulai memetakan kebutuhan tenaga kerja industri agar pelatihan yang diberikan kepada masyarakat lebih sesuai dengan kebutuhan perusahaan.
Pemkot juga memperketat pengawasan penggunaan tenaga kerja asing dengan alasan melindungi kesempatan kerja bagi tenaga kerja lokal.
Meski demikian, masyarakat menilai persoalan utama bukan hanya pelatihan, melainkan keterbukaan rekrutmen dan keberpihakan industri terhadap warga lokal.
“Kalau proyek ada, warga cuma dipakai sementara. Setelah selesai ya nganggur lagi,” keluh seorang warga lainnya.
Para pengamat menilai Cilegon sedang menghadapi paradoks industrialisasi: pertumbuhan ekonomi tinggi tetapi manfaatnya belum sepenuhnya dirasakan masyarakat bawah.
Industri yang berkembang pesat memang berhasil meningkatkan pendapatan daerah dan investasi. Namun tanpa regulasi yang berpihak pada pemerataan tenaga kerja lokal, kesenjangan sosial berpotensi terus melebar.
Kini masyarakat berharap pemerintah tidak hanya fokus mengejar investasi, tetapi juga memastikan industri di Kota Cilegon benar-benar menjadi sumber kesejahteraan bagi warga yang hidup di sekitar kawasan industri tersebut.(RSDN/Red*)

0 Komentar
Silakan tulis komentar dengan sopan dan relevan dengan artikel.