Breaking News

Spiritualitas Pengasah Hati untuk Memahami Mimpi Rakyat yang Gelisah oleh Perut Lapar


Oleh: Jacob Ereste
Banten | rosindonews.com - Spiritualitas merupakan bingkai etika, moral, dan akhlak mulia agar manusia tidak membelot menjadi pribadi yang ingkar, pembohong, penipu, culas, serta kehilangan nilai-nilai kemanusiaan yang dijaga oleh adat, tradisi, maupun peradaban modern.(4/7/2026) 

Hanya dengan etika yang teguh, manusia dapat memasuki tatanan moral yang dibimbing oleh nilai-nilai agama. Semua agama mengajarkan kebaikan dan dengan tegas melarang perbuatan buruk, perilaku tercela, termasuk tindakan yang merusak diri sendiri maupun orang lain.

Pada tahapan berikutnya, moralitas dibangun di atas fondasi etika yang bersih untuk menegakkan akhlak yang kokoh. Dari sanalah lahir kepribadian mulia dalam satu kesatuan kesadaran yang otentik—tidak silau oleh pujian dan tidak runtuh oleh cemoohan. Sebab, segala laku dijalankan sebagai bentuk kepatuhan terhadap petunjuk Ilahi.

Karena itu, nilai-nilai spiritualitas sangat diperlukan manusia untuk mencapai kesempurnaan hidup. Ketika menjadi makmum, spiritualitas menuntun manusia agar patuh pada imam yang benar-benar mampu membimbing ke jalan yang lurus. 

Sebaliknya, ketika menjadi imam atau pemimpin, spiritualitas menjadi penuntun untuk memberi teladan yang layak diikuti dan ditaati.

Di sinilah makna sami’na wa atha’na menjadi penting: mendengar dan menaati karena yang dipatuhi bukan hanya pandai berkata-kata, melainkan juga mampu memberi contoh nyata dalam sikap dan perbuatan. 

Pemimpin tidak cukup hanya pandai berjanji atau sekadar “omon-omon”, tetapi harus menjadi teladan hidup bagi rakyat yang dipimpinnya.

Sebab itu pula, sejarah selalu mencatat bahwa rakyat dapat melakukan penyanggahan terhadap penguasa yang zalim. Pepatah lama yang tak pernah usang berbunyi: “Raja alim disembah, raja zalim disanggah.” Petuah ini bukan hanya menjadi pengingat bagi rakyat kecil sebagai kawulo alit, tetapi juga menjadi peringatan bagi setiap penguasa agar tidak kehilangan kehormatan di singgasana kekuasaan.

Ketika kekuasaan kehilangan kebijaksanaan dan menjauh dari nurani rakyat, pembangkangan dapat tumbuh menjadi perlawanan. 

Sejarah dunia bahkan mencatat bagaimana seorang raja dapat kehilangan mahkota dan kepalanya sekaligus ketika penderitaan rakyat diabaikan, sebagaimana legenda tragis Raja Louis dalam Revolusi Prancis.

Karena itu, laku spiritual sesungguhnya diperlukan oleh semua manusia, baik rakyat kecil maupun mereka yang duduk di puncak kekuasaan. 

Nilai-nilai spiritualitas bersifat universal dan menjadi sarana untuk menundukkan egosentrisme diri yang kerap merasa paling benar dan tak tersentuh kritik.

Padahal, pemimpin yang bijak wajib mendengar derita, keluh, kesah, dan rintihan rakyatnya—mereka yang tidur dalam kecemasan, memeluk kegelisahan, dan mencoba terlelap bersama perut yang lapar.(RSDN/Red*) 

0 Komentar

Silakan tulis komentar dengan sopan dan relevan dengan artikel.

© Copyright 2026 - ROSINDONEWS.COM