CILEGON | ROSINDONEWS - Pengabdian kepada masyarakat dapat dilakukan melalui berbagai jalan. Bagi Iptu Dr. Yogie Fahrisal, pengabdian tidak hanya diwujudkan melalui tugasnya sebagai anggota Polri, tetapi juga melalui dunia pendidikan.

Di tengah tanggung jawabnya sebagai Kasat Pamobvit Polres Cilegon, Dr. Yogie tetap aktif menjalankan peran sebagai akademisi di Universitas Al-Khairiyah Cilegon. Ia dipercaya mengemban amanah sebagai Dekan Fakultas Hukum dan Fakultas Agama Islam.

Keterlibatan Yogie di lingkungan kampus menjadi bagian dari komitmennya untuk ikut membangun sumber daya manusia, khususnya generasi muda yang memahami hukum, memiliki integritas, serta mampu menerapkan ilmu dalam kehidupan bermasyarakat.

Menurut Dr. Yogie, kehadiran anggota kepolisian di lingkungan pendidikan memiliki nilai penting. Polisi, kata dia, tidak hanya hadir ketika terjadi persoalan hukum, tetapi juga dapat mengambil bagian dalam proses edukasi dan pembentukan karakter masyarakat.

"Kapolda Banten Menyampai Pesan Polisi perlu hadir di dunia pendidikan dan peduli terhadap kampus,” ujar Yogie, Rabu (12/8/2026).

Pengabdian Dr. Yogie di bidang pendidikan bukan sesuatu yang baru. Ia telah menjalani aktivitas mengajar selama kurang lebih lima tahun dan sebelumnya pernah mengajar di sejumlah perguruan tinggi swasta di Provinsi Banten.

Sementara di Universitas Al-Khairiyah, aktivitas akademiknya telah berlangsung sekitar satu tahun. Materi yang disampaikan berkaitan dengan bidang hukum dan manajemen sumber daya manusia, dengan konsentrasi utama pada ilmu hukum.

Pengalaman sebagai anggota Polri menjadi salah satu modal yang dibawanya ke ruang kelas. Pengalaman praktis dalam bidang hukum dan kehidupan sosial masyarakat dinilai dapat memberikan perspektif berbeda kepada mahasiswa, terutama dalam memahami bagaimana hukum bekerja dalam kehidupan nyata.

Meski menjalankan tanggung jawab di dua bidang, Dr. Yogie menegaskan bahwa tugas kedinasan sebagai anggota Polri tetap menjadi prioritas.

Untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan aktivitas akademik, kegiatan mengajar dilaksanakan secara daring dan umumnya berlangsung pada sore hari sehingga tidak mengganggu tugas kepolisian.

Bagi Dr. Yogie, pendidikan bukan sekadar proses transfer ilmu pengetahuan. Pendidikan juga menjadi sarana membangun karakter sekaligus menanamkan nilai integritas kepada generasi penerus.

Ia mengajak masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus meningkatkan kapasitas diri sekaligus menjaga integritas dalam setiap profesi yang dijalankan.

“Sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. Karena itu, tingkatkan kualitas diri, pertahankan integritas, dan jadilah pribadi yang dikenang karena manfaatnya,” tuturnya.

Tidak hanya berbicara mengenai pendidikan, Dr. Yogie juga membawa pendekatan humanis dalam menjalankan tugasnya sebagai anggota kepolisian.

Menurutnya, masyarakat harus mendapatkan pelayanan yang baik, terbuka, ramah, dan bertanggung jawab. Hubungan antara polisi dan masyarakat perlu dibangun melalui komunikasi yang positif sehingga kehadiran polisi benar-benar dirasakan sebagai bagian dari solusi.

“Berikan kegembiraan dan layani masyarakat dengan baik. Jangan sampai masyarakat lari dari kita atau menghindari kita,” pesannya.

Perjalanan Yogie menjadi gambaran bahwa pengabdian seorang anggota Polri dapat melampaui ruang tugas kedinasan. Di satu sisi, ia menjalankan tanggung jawab menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat. Di sisi lain, ia turut berkontribusi dalam mencetak generasi yang memahami hukum dan memiliki integritas.

Dari ruang pelayanan publik hingga ruang akademik, Yogie memilih satu jalur pengabdian yang sama: memberikan manfaat melalui pengetahuan, pengalaman, disiplin, dan dedikasi kepada masyarakat.(RSDN)