SERANG | ROSINDONEWS — Pemerhati lingkungan HIPMI Kabupaten Serang, Idam Farad, menyoroti pengelolaan sampah di Kabupaten Serang yang dinilainya masih minim inovasi. Menurutnya, berbagai program seperti TPS 3R, bank sampah, hingga Pengolahan Sampah Menjadi Energi Listrik (PSEL) tidak boleh berhenti sebatas program dan jargon pemerintah.(22/8/26)
Idam menilai, pengelolaan sampah membutuhkan pendekatan yang lebih modern, berbasis teknologi, memiliki model bisnis yang jelas, serta target pengurangan sampah yang dapat diukur.
“Kalau inovasinya hanya membangun TPS 3R, bank sampah dan energi listrik atau PSEL tanpa melek teknologi terbaru, tanpa model bisnis, tanpa target pengurangan sampah yang terukur, itu bukan inovasi. Itu hanya mengulang pola lama dengan nama yang baru,” tegas Idam.
Menurutnya, persoalan sampah di Kabupaten Serang bukan hanya berkaitan dengan keterbatasan tempat penampungan, tetapi juga bagaimana pemerintah mampu mengubah sampah menjadi sumber daya sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Sampah yang masih memiliki nilai, kata Idam, harus dipilah sejak dari sumbernya, kemudian diolah, didaur ulang, dan diarahkan masuk ke dalam rantai industri. Karena itu, teknologi pengolahan sampah dinilai harus menjadi bagian utama dari kebijakan Dinas Lingkungan Hidup (DLH), bukan sekadar pelengkap.
“Zero waste itu bukan sekadar slogan. Sampah harus dipandang sebagai bahan baku dan peluang ekonomi. Pemerintah harus berani membangun ekosistem pengolahan yang modern, terukur dan menghasilkan nilai tambah,” ujarnya.
Idam juga meminta DLH Kabupaten Serang melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kualitas inovasi dan kepemimpinan dalam sektor lingkungan. Ia menilai persoalan sampah yang semakin kompleks membutuhkan pejabat yang mampu memahami perkembangan teknologi sekaligus memiliki keberanian untuk melakukan terobosan.
“Kalau pejabat yang menangani lingkungan tidak punya terobosan, tidak melek teknologi dan masih berpikir dengan pola pengelolaan sampah konvensional, bagaimana Kabupaten Serang mau menyelesaikan persoalan sampah yang semakin kompleks?” katanya.
Ia pun mendorong Bupati dan Wakil Bupati Serang menempatkan aparatur yang memiliki kompetensi, keberanian berinovasi, serta pemahaman terhadap teknologi pengelolaan lingkungan.
“Jangan sampai masyarakat terus dibebani masalah sampah, sementara pemerintah hanya sibuk membuat program. Kabupaten Serang membutuhkan pejabat lingkungan yang berpikir 10–20 tahun ke depan, bukan hanya mengejar program tahunan,” pungkasnya.
Idam menegaskan, keberhasilan DLH dalam mengelola sampah tidak semestinya hanya diukur dari jumlah TPS yang dibangun maupun banyaknya program yang diluncurkan.
Menurutnya, indikator yang lebih penting adalah berapa ton sampah yang berhasil dikurangi, berapa banyak yang berhasil diolah, berapa bagian yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku industri, serta seberapa besar nilai ekonomi yang berhasil diciptakan bagi masyarakat Kabupaten Serang.
Dengan pendekatan tersebut, pengelolaan sampah diharapkan tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga dapat berkembang menjadi bagian dari ekosistem ekonomi sirkular yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat," Tutup Idam Dalam Keterangan Resmi.(RSDN/Red*)

Social Header