JAKARTA | ROSINDONEWS – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, praktisi hukum dan mediator nasional, Dr. (c) Adv. Rikha Permatasari, S.H., M.H., C.Med., C.LO., C.PIM., menyampaikan pesan kebangsaan melalui tulisan bertajuk “Surat Cinta Ke-3 untuk Pemimpin Negeri: Warisan Terindah Seorang Pemimpin Adalah Keadilan.”(4/8)
Surat terbuka tersebut menjadi refleksi mendalam mengenai pentingnya keadilan sebagai fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Melalui suratnya, Rikha mengajak seluruh pemimpin negeri untuk menjadikan keadilan sebagai prioritas dalam setiap kebijakan dan tindakan yang diambil demi kepentingan rakyat.
Menurutnya, tema HUT RI ke-81, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur,” harus diwujudkan dalam bentuk nyata, bukan sekadar slogan yang digaungkan setiap tahun. Keadilan, kata dia, merupakan salah satu unsur terpenting untuk menjaga kepercayaan masyarakat terhadap negara.
“Rakyat tidak meminta perlakuan istimewa. Mereka hanya berharap diperlakukan secara adil. Mereka tidak meminta hukum berpihak kepada mereka, melainkan berharap hukum berdiri tegak tanpa dipengaruhi kekuasaan, jabatan, maupun kepentingan tertentu,” tulis Rikha dalam suratnya.
Ia menyoroti masih adanya masyarakat yang hingga kini menantikan kehadiran negara dalam memperjuangkan keadilan. Mulai dari keluarga yang menunggu kepastian hukum atas kasus yang menimpa anggota keluarganya, hingga masyarakat kecil yang kesulitan mendapatkan akses terhadap proses hukum yang berkeadilan.
Rikha menegaskan bahwa prinsip persamaan di hadapan hukum sebagaimana diamanatkan dalam Undang-Undang Dasar 1945 harus diwujudkan secara konsisten dalam setiap tahapan penegakan hukum. Menurutnya, kepercayaan publik tidak dibangun melalui pidato atau janji, tetapi melalui tindakan nyata yang mampu menghadirkan rasa keadilan.
Dalam surat tersebut, ia juga mengingatkan bahwa bangsa Indonesia tidak membutuhkan pemimpin yang sempurna. Sebaliknya, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang memiliki keberanian untuk mendengar suara rakyat, mengevaluasi kebijakan, memperbaiki kekurangan, dan memastikan tidak ada warga negara yang kehilangan harapan hanya karena tidak memiliki kekuasaan.
“Ketika hukum ditegakkan secara jujur, rakyat akan berdiri di belakang negara. Ketika keadilan benar-benar hadir, kepercayaan publik akan tumbuh. Dan ketika negara melindungi yang lemah, Indonesia akan menjadi bangsa yang semakin kuat dan bermartabat,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rikha mengingatkan bahwa setiap jabatan dan kekuasaan pada akhirnya akan berakhir. Namun sejarah akan selalu mencatat bagaimana seorang pemimpin menggunakan kewenangan yang dimilikinya untuk melayani rakyat dan menghadirkan keadilan.
Menurutnya, warisan terbesar seorang pemimpin bukanlah lamanya masa jabatan ataupun besarnya kekuasaan yang pernah dimiliki, melainkan keberanian dalam memperjuangkan keadilan bagi seluruh rakyat.
“Suatu hari nanti jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berganti, dan nama-nama pemimpin akan menjadi bagian dari sejarah. Namun yang akan selalu dikenang adalah seberapa besar keberanian seorang pemimpin menghadirkan keadilan bagi rakyatnya. Itulah warisan yang tidak akan pernah lekang oleh waktu,” tegasnya.
Melalui surat terbuka tersebut, Rikha Permatasari berharap seluruh penyelenggara negara senantiasa diberikan kebijaksanaan, keberanian, kesehatan, dan hati nurani dalam menjalankan amanah bangsa. Ia juga mengajak seluruh elemen masyarakat menjadikan momentum HUT RI ke-81 sebagai penguat komitmen bersama untuk mewujudkan Indonesia yang benar-benar berdaulat, adil, dan makmur.
Menutup suratnya, Rikha menyampaikan pesan yang menjadi inti dari refleksi kebangsaannya menjelang Hari Kemerdekaan Republik Indonesia.
“Sebesar apa pun sebuah bangsa, kemuliaannya akan selalu diukur dari cara negara memperlakukan rakyatnya yang paling lemah.”
Dirgahayu Republik Indonesia ke-81.
Merdeka! Merdeka! Merdeka!

Social Header